Banten Institute For Social Transformation (BaIST)

Latar Belakang

Banten, sebagai provinsi yang baru berdiri dan berusia lima tahun pendiriannya, masih memiliki kompleksitas permasalahan yang belum terselesaikan. Permasalahan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masih menjadi momok segar yang menggelayuti wajah Banten, dan belum terlihat sedikitpun keberanjakan dari permasalahan-permasalahan tersebut.

Sebagai sebuah data versi SIG BPS Tahun 2005 Provinsi Banten 2005, potret kemiskinan di Banten cukup mengkhawatirkan. Terkuak data sebanyak 2.124.971 Rumah Tangga (RT) yang termasuk dalam kategori keluarga miskin. Permasalahan kemiskinan dibanten disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: Keterbatasan akses layanan pendidikan 36,75% dari total Rumah Tangga Miskin, tidak mampu berobat 52,15% dari rumah tangga miskin (RTM), partisipasi dalam KB 55,93% dan berpotensi terhadap permasalahan gizi balita 39,82%. Keterbatasan akses layanan modal usaha yang mengakses baru 1,22% dan keterbatasan rumah layak huni: Lantai Tidak Layak 72,13%, BAB Bersama 88% dan Sumber Air Minum terbuka 76,14%.

Hal senada juga terlihat dari data pendidikan yang nota bene menjadi pilar pembangunan masyarakat Banten, Kondisi bangunan SD-SLTA dapat digambarkan dibawah ini:

Kondisi Bangunan SD, SLTP, & SLTA Negeri di Provinsi Banten Tahun 2002/2003
No. Kondisi Bangunan/Lokal Tingkat Pendidikan
SD SLTP SLTA
1. Baik 7.888 1.518 813
2. Rusak Ringan 7.049 826 385
3. Rusak Berat 6.413 373 134
4. Rusak Total 1.548 83 32
Jumlah 22.898 2.800 1.363

Sementara angka buta huruf usia produktif di Banten tahun 2007, mencapai angka 500.000 lebih dimana wilayah terbesar buta huruf berada di Pandeglang dan Lebak.

Selain itu, di bidang ekonomi sampai saat ini perekonomian di Banten lebih banyak digerakkan oleh sektor industri padat modal, seperti terlihat di wilayah Cilegon, Serang dan Tangerang dengan bertebarannya perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi logam, tekstil dan kimia. Sementara sektor ekonomi riil, seperti pertanian, kehutanan dan kelautan, belum digerakkan secara optimal. Padahal, potensi-potensi sumberdaya alam di Banten cukup besar, terutama di 3 kabupaten yaitu Pandeglang, Lebak dan Serang.

Ketidakselarasan antara industri hulu dan hilir inilah, yang kemudian menjadikan ketimpangan perekonomian masyarakat Banten. Tidak hanya pada perekonomian individu yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan di Banten, tapi juga pada perekonomian daerah yang tidak seimbang. Daerah dimana tersebar industri padat modal lebih cepat pertumbuhan ekonomi dan fisiknya, sementara daerah lain pertumbuhan ekonominya lambat, bahkan cenderung dilambatkan dengan logika rendahnya petumbuhan pendapatan daerah tersebut. Tentunya hal tersebut juga berimbas pada bidang kehidupan masyarakat lainnya seperti pendidikan dan fasilitas-fasilitas umum yang menjadi hak masyarakat.

Apalagi jika kita melihat potret kesehatan masyarakat di Banten cukup menghawatirkan. 279.556 anak yang berpotensi terhadap permasalahan gizi balita, akses layanan masyarakat terhadap kesehatan sangat lemah, pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan berbasis hak belum menjadi pengetahuan bersama. dalam data yang ada disebutkan bahwa berbagai penyakit dari mulai TBC, lumpuh layu, Flu Burung (dari 14 kasus, 11 meninggal Dunia: Juni 2007). dan berbagai penyakit lainnya.

Sederhananya, membayangkan Banten adalah sebuah ironisme tak berkesudahan. Sebagai daerah yang berdampingan dengan pusat kekuasaan negara Republik Indonesia, situasi pendidikan yang rendah, kemiskinan yang menyebar dan ekonominya yang berjalan lambat, ditambah rendahnya peran-peran kelompok elit untuk memberdayakan masyarakat. Sekedar ilustrasi, sebagai wilayah yang mengklaim dirinya religius tentu saja cukup beralasan, data dari Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) provinsi Banten menyebutkan bahwa ada 6.000 pondok pesantren di Banten, dan itu belum termasuk pesantren Salaf, juga adanya komunitas petani, nelayan dan buruh yang memiliki peluang strategis dalam mengembangkan sumberdaya manusia, hanya saja hal tersebut masih belum dimaksimalkan secara intensif.

Oleh karena itu, dengan belum adanya lembaga yang secara optimal berupaya untuk mengembangkan potensi sumberdaya yang dimiliki oleh Banten, ditambah kondisi pemerintahan yang sibuk dengan urusannya sendiri dan belum mampu menunjukkan performa yang baik dan komitmen besar terhadap pembangunan masyarakat, maka diperlukan adanya upaya transformasi sosial, bagaimana merangsang munculnya kesadaran masyarakat untuk memperbaiki kualitas kehidupan, meningkatkan kualitas pendidikan, mengurangi kemiskinan dan kebodohan, serta menggairahkan perekonomian masyarakat.

Untuk itu, didirikanlah sebuah lembaga bernama Banten Institute for Social Transformation (BaIST) dengan mandat langsung dari komunitas yang terdiri dari komunitas petani, pondok pesantren, komunitas nelayan, komunitas majlis ta’lim, anak jalanan dan komunitas buruh. Awal berdiri BaIST tahun 2003 dan mulai dilegalkan dengan badan hukum Yayasan Februari 2006 dengan mandat lembaga melakukan dukungan dan mengawal proses transformasi sosial masyarakat Banten, sehingga menjadi lebih mandiri dan berkualitas.

Tujuan Organisasi

  1. Menjadi lembaga pendukung bagi lembaga yang menjadi konstituen BaIST
  2. Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Banten yang berkualitas yang didasarkan pada nilai-nilai agama (IMTAK) dan menguasai teknologi (IPTEK)
  3. Mendorong terwujudnya kebijakan-kebijakan yang mampu melindungi dan melayani masyarakat
  4. Mengembangkan potensi sumberdaya lokal yang berorientasi kerakyatan dan kemandirian

Visi Organisasi

Meningkatkan Masyarakat Banten yang Berkualitas, Mandiri dan Sejahtera

Misi Organisasi

  1. Pemberdayaan potensi lokal dibidang ekonomi, politik, sosial dan budaya
  2. Meningkatkan kualitas SDM dengan pelatihan-pelatihan pada sektor-sektor yang ada
  3. Meningkatkan mutu pendidikan

Program Strategis

Pengembangan EKonomi Kerakyatan Melalui pemberdayaan Potensi Lokal Menuju Banten Mandiri

Struktur Organisasi

Dewan Penasehat
  1. Ir. Sarwono Kusumaatmadja
  2. Don K. Marut
  3. Dr. Ali Fadillah
  4. Prof. Yohanes Surya
  5. K.H. Wahid Sahari, MA
  6. K.H. Ading Subarna
Badan Pengurus
Ketua
: Nisaillah
Sekretaris
: Sa’atu Adhia
Bendahara
: Farohatul Asyuro
Divisi Pendidikan
: Andi, Endang Maulana, Dzikri Aziz
Divisi Ekonomi
: M. Ibnu Zakaria, Hasbunallah
Divisi Advokasi Sosial
: Faedullah, Ivan Nurkhoir, Saefullah
Badan Pengawas
Ketua
: Kuswata Imam Rusdi
Anggota
: Yandi Nurhayandi

Alamat Lembaga

Jl. Bhayangkara Komplek Griya Serang Asri Blok E No.3 Cipocok Jaya Serang
Telp. 0254-212211
E-mail: baist@baistfoundation.org

Badan Hukum Organisasi

Yayasan dengan Nomor: 12 dengan NOTARIS dan PPAT SANDRA TANOD, SH

Jaringan Kerja

  1. Non Timber Forest Product (NTFP) untuk program Terminal perdagangan produk hasil hutan non kayu
  2. Pesantren-pesantren di Banten seperti: Mathla’ul Anwar, Al Ishlah, Raudatul Jannah, Daarut Taufik, Daarul Ihksan, Hidayatul Mubtadiin, dan lain-lain
  3. UNICEF Jakarta
  4. KOMNAS Flu Burung Indonesia
  5. INFID Jakarta
  6. FORMASI Indonesia (Program CTC untuk Petani)
  7. ASHOKA Indonesia
  8. Indonesia Society for Social Transformation (INSIST) Yogyakarta
  9. PT. Krakatau Stell Divisi PKBL
  10. PT. Ashahimas Chemical
  11. PLN AJB Banten
  12. Bapeda Kota Cilegon
  13. BPM Provinsi Banten
  14. Bapeda Provinsi banten
  15. Dinas Pertanian dan Peternakan Banten, Serang, Pandeglang dan Lebak
  16. PERINDAGKOP Provinsi Banten
  17. Komunitas warga di Cilegon, Pandeglang, Lebak, Serang dan Tangerang
  18. Memiliki Jaringan nasional melalui program Indonesia Voulentary for Social Movement (INVOLVEMENT) di berbagai wilayah di Indonesia

Unit-Unit Kegiatan

  1. Bale Rakyat Banten

    Sebagai unit sekolah BaIST yang diharapkan menjadi pusat belajar dari para aktivis, dan menjadi sekolah untuk mencetak para fasilitator di komunitas-komunitas konstituen BaIST. Sekolah ini dipimpin oleh Kepala Sekolah bernama Muhaimin Ahmadi, seorang alumni Indonesian Voulenteer for Social Movement (INVOLVEMENT) yang memiliki latar belakang luas di dunia pengorganisasian rakyat dan pengembangan sekolah-sekolah rakyat, khususnya di Cilegon dan Serang, yang selalu menjunjung tinggi komitmen untuk mengembangkan sekolah-sekolah transformatif di Banten.

    Unit sekolah ini, memiliki perhatian serius di tiga bidang utama pendidikan yaitu pertanian, peternakan dan perikanan dan pelatihan-pelatihan. Di bidang pendidikan pertanian, berada dalam bingkai pengembangan pertanian organik bagi para petani, untuk menumbuhkembangkan sayur mayur, padi dan palawija. Pendidikan kedua di bidang peternakan, dalam bingkai peternakan, perikanan laut dan darat, serta peternakan hewan. Pendidikan ketiga, di bidang pelatihan-pelatihan dalam bingkai peningkatan kapasitas guru dan Community Organizer (CO) lokal komunitas, pemagangan, serta pemberdayaan perempuan.

  2. Komunitas Usaha Rakyat

    Merupakan usaha pengembangan ekonomi masyarakat dengan pemberdayaan potensi lokal di bidang pertanian. Unit-unit usaha komunitas yang telah terbentuk diantaranya : budidaya lele, budidaya melon, produksi kecap, dan pengembangan agrobisnis pesantren.

Pengalaman Organisasi:

  1. Riset sosial di Banten Insist-TIFA Foundation. 2004-2005
  2. Assesment “Sekolah Demokrasi” Di provinsi Banten NIMD-INSIST. 2004
  3. Assesment “Program Kesehatan Reproduksi” di kabupaten Lebak. 2004
  4. Pendidikan Indonesian Voulentary for Social Transformation (INVOLVEMENT Banten) 2004-2005
  5. Pengembangan terminal bisnis untuk produk hasil hutan non kayu, BaIST-NTFP 2005-Sekarang
  6. Pengembangan teknologi informasi berbasis Internet di kabupaten Pandeglang, INCIS-BaIST. 2004-2007
  7. Pengembangan Cyber Plasa Pandeglang Baist-PT. Telkom Pandeglang Juni 2006-Mei 2008
  8. Advokasi kampanye anti perdagangan perempuan dan anak di provinsi Banten, Pengurus Wilayah (PW) Mathla’ul Anwar- ICMC-USAID. September 2005-April 2006
  9. Survey popularitas pemilih dan Quick Count Pemilu Presiden I dan II (PILPRES 2004), LP3ES- BaIST
  10. Assesment untuk program “Citizen Exchanges with East Asia, for Indonesian Leaders and Civic Education in Kabupaten Pandeglang dan Indramayu” INSIST-ITD-BaIST
  11. Penguatan kelembagaan BaIST, INSIST- Coreaids. Februari-Juni 2006
  12. Pengembangan energi alternatif melalui pohon jarak di Pandeglang, Lebak, Serang dan Tangerang dengan beberapa Pondok pesantren dan komunitas di Banten, Maret 2006-sekarang
  13. Asistensi Pasar/Terminal Banjarmasin, Kalsel Yayasan SETARA-BaIST Agustus 2006-Juli 2007
  14. Peningkatan kapasitas anggota DPRD Banten komisi I-IV Tahun2006-2007
  15. Program penguatan ekonomi pondok pesantren di Banten PT. Krakatau Steel-BaIST Juni 2006-Sekarang
  16. Assesment produk nilam kalimantan Tengah Desa sembuluh, Sawit watch-BaIST, Juni 2006
  17. Asistensi dan Konsultasi pesantren Agrobisnis di Pandeglang dan Serang untuk budidaya Pisang Golek dan Pertanian Organik tahun 2006-sekarang
  18. Program Desa model ketahanan masyarakat dalam menghadapi flu burung, UNICEF, 2007-Sekarang
  19. MUSRENBANG kota Cilegon tahun 2007
  20. Peningkatan produktivitas pemuda melalui pembibitan Lele, BaIST- PT. Krakatau Steel Tahun 2007
  21. Pengembangan Home Industri Kecap di Serang dan Pandeglang kerjasama BaIST-PLN AJB Banten tahun 2007.
  22. Peningkatan akses teknologi dan komunikasi bagi petani, kerjasama BaIST-Formasi-Microsoft Corporation tahun 2007-2009

CopyLeft © 2007 - 2010 BaIST - Banten Institute for Social Transformation