<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BaIST</title>
	<atom:link href="http://baistfoundation.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://baistfoundation.org</link>
	<description>Banten Institute for Social Transformation</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Jul 2009 15:16:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menuju Pertanian Organik</title>
		<link>http://baistfoundation.org/artikel/menuju-pertanian-organik/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/artikel/menuju-pertanian-organik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 15:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Zakaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bidang Pertanian, segala unsur teknologi budi daya tanaman yang lebih banyak menimbulkan efek negatif terhadap keseimbangan ekosistem Tanah perlu ditinjau kembali untuk dicarikan jalan keluar atau penggantinya. Pertanian organik, Merupakan alternatif pertanian, pengendalian hama terpadu, dan biopestisida merupakan cara-cara alternatif untuk menuju pertanian ramah lingkungan.

Isu pelestarian lingkungan kini begitu kuat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bidang Pertanian, segala unsur teknologi budi daya tanaman yang lebih banyak menimbulkan efek negatif terhadap keseimbangan ekosistem Tanah perlu ditinjau kembali untuk dicarikan jalan keluar atau penggantinya. Pertanian organik, Merupakan alternatif pertanian, pengendalian hama terpadu, dan biopestisida merupakan cara-cara alternatif untuk menuju pertanian ramah lingkungan.<br />
<span id="more-83"></span></p>
<p>Isu pelestarian lingkungan kini begitu kuat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehingga segala usaha atau tindakan yang berkaitan dengan pembangunan perlu memasukkan unsur pelestarian ke dalamnya. Berkaitan dengan hal itu, teknologi pertanian yang banyak menimbulkan efek negative terhadap keseimbangan ekosistem perlu ditinjau kembali untuk dicarikan jalan keluar atau penggantinya. Pertanian Organik, Pengendalian hama terpadu, dan biopestisida merupakan cara-cara alternatif dalam menuju pertanian berwawasan lingkungan.</p>
<p>Pestisida merupakan bahan pencemar paling potensial dalam budi daya tanaman. Oleh karena itu, perannya perlu diganti dengan teknologi lain yang lebih berwawasan lingkungan. Pemakaian bibit unggul, pupuk anorganik, dan pestisida memang mampu memberikan hasil yang tinggi. Swasembada beras yang dicapai Indonesia pada tahun 1984 tidak terlepas dari ketiga hal tersebut. Namun, tanpa disadari praktek ini telah menimbulkan masalah dalam usaha pertanian itu sendiri maupun terhadap lingkungan.</p>
<p>Pertanian Organik, Pengendalian Hama Terpadu, dan Biopestisida Pada mulanya penemuan pestisida disambut penuh harap, seakan pestisida mampu menyelesaikan masalah hama tanaman tanpa menimbulkan dampak merugikan terhadap lingkungan setelah muncul hama yang resisten terhadap pestisida, terbunuhnya organisme bukan sasaran, munculnya hama sekunder, dan terjadinya pencemaran lingkungan, masyarakat baru menyadari bahwa masalah pestisida tidak sesederhana yang dipikirkan. </p>
<h4>Pertanian Organik</h4>
<p>Pada pada tradisional, yaitu pertanian tanpa pupuk anorganik dan memanfaatkan varietas unggul lokal, hasil yang diperoleh cukup tinggi meskipun masukan bahan organik rendah. Pertanian ini juga dinilai mampu menjaga produktivitas jangka panjang.Pada mulanya, Pertanian organik yang berkembang adalah pertanian tradisional yang subsisten. Namun dengan semakin kuatnya isu pengotoran lingkungan, maka pertanian organik ini dinilai mampu menjawab masalah pelestarian lingkungan, termasuk tuntutan untuk mendapatkan bahan makanan sehat dan bebas pencemaran kimiawi. Standar dasar pertanian organik yang dikeluarkan oleh <strong>International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM)</strong> adalah:</p>
<ul>
<li>Menghasilkan pangan yang kualitas gizinya baik dan dalam jumlah yang cukup. </li>
<li>Melaksanakan interaksi secara konstruktif dan meningkatkan taraf hidup dengan memperhatikan kondisi lingkungan. </li>
<li>Mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah.</li>
<li>Membantu dan melaksanakan usaha konservasi tanah dan air.</li>
<li>Sedapat mungkin bekerja dengan bahan dan senyawa yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/artikel/menuju-pertanian-organik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Hutan di Banten</title>
		<link>http://baistfoundation.org/artikel/selamatkan-hutan-di-banten/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/artikel/selamatkan-hutan-di-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 15:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Zakaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Propinsi Banten memiliki hutan tropis yang luas, namun bersamaan dengan peningkatan jumlah penduduk kualitas dan kuantitas hutan terus mengalami penurunan. Dari sekitar 250 ribu hektar hutan yang ada di Banten, 90 ribu hektar atau 36 persen di antaranya dalam kondisi rusak parah. Tekanan terhadap ekosistem hutan di bagian utara Banten jauh lebih besar dibandingkan bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Propinsi Banten memiliki hutan tropis yang luas, namun bersamaan dengan peningkatan jumlah penduduk kualitas dan kuantitas hutan terus mengalami penurunan. Dari sekitar 250 ribu hektar hutan yang ada di Banten, 90 ribu hektar atau 36 persen di antaranya dalam kondisi rusak parah. Tekanan terhadap ekosistem hutan di bagian utara Banten jauh lebih besar dibandingkan bagian selatan. Bagian utara Banten yang meliputi Kota dan kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon memiliki tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, sehingga eksploitasi sumberdaya alam termasuk hutan, berlangsung cepat dan boros.<br />
 <span id="more-80"></span></p>
<p>Tak dapat dipungkiri, keberadaan kawasan industri dan pemukiman yang terkonsentrasi di bagian utara menyebabkan degradasi kualitas lingkungan sulit dihindari. Idealnya setiap industri harus berwawasan lingkungan, bahkan perlu memenuhi standar manajemen lingkungan seperti ISO 14000. Namun kenyataan di lapangan kepentingan ekonomi selalu mengalahkan kepentingan ekologi, makin pesat pembangunan berlangsung makin banyak komponen lingkungan yang dikorbankan, termasuk hutan.</p>
<p>Di bagian selatan Banten, yang meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang, kerusakan hutan tidak separah di bagian utara. Namun eksploitasi terus berlangsung, sebagai gambaran di kawasan hutan Gunung Halimun dan Gunung Kendeng, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor, jawa Barat, areal yang tertutup vegetasi hutan tinggal 75-80 persen, dengan kata lain 20-25 persen areal hutan sudah gundul. Sementara di perbatasan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, seperti di Gunung Karang (meliputi perbatasan wilayah Kecamatan Ciomas, Keduhejo, Pandeglang dan Cadasari) 60 persen areal hutan gundul dan di Gunung Aseupan (perbatasan wilayah Kecamatan Menes, Mandalawangi, Jiput dan Padarincang) 45 persen gundul. Sedangkan di kawasan hutan Gunung Pulosari, perbatasan antara Kecamatan Mandalawangi dan Saketi, Kabupaten Pandeglang 65 persen gundul.</p>
<p>Eksploitasi ternyata tidak hanya terjadi di hutan pegunungan, tetapi juga di kawasan hutan lainnya, seperti hutan yang ada di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Ci Danau, Ci Beureum, Ci Simeut, Ci Ujung, Ci Baliung, Ci Banten, Ci Bogor, Ci Durian, Ci Manceuri dan Cisadane. Begitu pula di hutan pantai, baik pantai barat, pantai selatan dan pantai utara, bahkan di Taman Nasional Ujung Kulon, Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang juga terjadi perusakan dan penjarahan hutan.</p>
<p>Keruskan hutan juga terjadi di kawasan cagar alam Rawa Dano, Kecamatan Mancak Kabupaten Serang. Sebagai akibat tekanan penduduk, perambahan dan pengelolaan lahan ilegal di cagar alam seluas 2.500 hektar tersebut sangat berpengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan, antara lain dengan melorotnya debit air dari 2.000 liter per detik menjadi hanya 200 liter per detik. Dampaknya berbagai kawasan industri di Kota Cilegon mengalami krisis air. Secara umum eksplotasi hutan menimbulkan terganggunya berbagai fungsi hutan yang sangat sulit untuk dipulihkan kembali.</p>
<h4>Multi Fungsi Hutan</h4>
<p>Hutan memiliki multi fungsi, mulai dari fungsi klimatologis, hidrologis, sosiologis, biologis, dan ekonomis. Fungsi klimatologis hutan erat kaitannya dengan unsur-unsur iklim seperti hujan, suhu, kelembaban, angin dan sinar matahari. Seluruh hutan yang ada di Banten berperan sebagai &#8216;paru-paru&#8217; seluruh ekosistem Propinsi Banten. Sulit dibayangkan, jika seorang manusia mengalami kerusakan paru-paru, maka kehidupannya mengalami banyak gangguan. Begitu pula suatu ekosistem seluas Propinsi Banten, jika hutannya mengalami kerusakan, maka ekosistem itupun menjadi &#8217;sakit&#8217;. Jika pohon di hutan terus ditebangi, maka &#8217;sakit&#8217; yang diderita ekosistem semakin parah. </p>
<p>Gejala-gejala ekosistem yang &#8217;sakit&#8217; antara lain, pemasukan dan pengeluaran (siklus) air tidak terkendali, suhu dan kelembaban meningkat, sinar matahari dan angin kurang termanfaatkan dan tidak terarah. Sinar matahari yang mengenai pohon-pohonan atau vegetasi hutan, maka energinya akan dimanfaatkan dalam proses fotosintesis, sehingga terbentuk karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman, termasuk untuk proses terbentuknya kayu. Selain itu, dalam proses fotosintesis itupun, gas karbondioksida (CO2) yang merupakan polutan di udara diserap oleh daun pohon-pohonan, dan dari proses tersebut dikeluarkan oksigen (O2) yang sangat dibutuhkan untuk pernafasan manusia. Hal inilah yang dimaksud bahwa hutan di Banten merupakan paru-parunya ekosistem Banten.</p>
<p>Sulit dibayangkan, bagaimana kondisi paru-paru dan kesehatan masyarakat perkotaan seperti yang ada di Cilegon, Serang dan Tangerang, yang atmosfirnya penuh dengan gas CO2, CO, SOx, NOx dan polutan lainnya sebagai buangan dari asap kendaraan bermotor, rumah tangga dan pabrik. Sedangkan di sisi lainnya, kawasan hijau di kota-kota tersebut sangat terbatas, bahkan pohon-pohonan di pinggir jalan makin banyak yang ditebangi.</p>
<p>Fungsi hidrologis hutan berhubungan dengan siklus air. Ekosistem hutan memiliki tajuk yang berlapis, mulai dari pohon-pohon berukuran raksasa sampai perdu dan rumput yang menutupi tanah, selain itu daun-daun yang berguguran menjadi serasah dan humus yang juga menutupi tanah. Sistem tajuk berlapis tersebut dapat mengurangi energi kinetik yang berasal dari tetesan atau jatuhan air hujan, sehingga tidak merusak tanah dan tidak menimbulkan erosi.</p>
<p>Pada lahan yang tidak bervegetasi seperti hutan yang gundul, maka ketika hujan datang tetesannya langsung mengenai butiran tanah sehingga dapat menimbulkan erosi. Aliran permukaan yang membawa butiran tanah tersebut akhirnya masuk ke badan sungai dan menimbulkan pendangkalan. Jika curah hujan tinggi maka badan sungai tidak dapat menampungnya, terjadilah luapan air atau banjir, baik di bagian hulu maupun bagian hilir DAS. Kawasan bervegetasi sebenarnya merupakan daerah resapan air, sehingga air yang dialirkan ke sungai sesuai dengan kapasitas sungai dan tidak menimbulkan banjir. Pada musim kemarau di kawasan ini cadangan air masih tersedia, meskipun debit air yang masuk sungai menurun. Sebaliknya pada kawasan yang tidak bervegetasi, seperti hutan gundul, ketika musim kemarau tiba tidak ada lagi cadangan air, sungaipun menjadi kering kerontang.</p>
<p>Kawasan hutan di sekitar Gunung Karang menjadi hulu beberapa sungai yang mengalir ke bagian barat, utara, timur dan selatan Banten, seperti Ci Lamer, Ci Ujung, Ci Asem, Ci Bogor dan Ci Banten. Setiap penebangan pohon di Gunung Karang berdampak langsung terhadap penyusutan debit air di musim kemarau untuk DAS tersebut, sebaliknya pada musim hujan berdampak langsung terhadap kejadian banjir di sekitar DAS tersebut. Posisi kota Serang dan Pandeglang dengan Gunung Karang identik dengan posisi kota Jakarta dengan kawasan Puncak. Dengan kata lain, jika penebangan pohon dan kerusakan hutan di sekitar Gunung Karang tidak terkendali, maka kota Serang dan Pandeglang siap-siap terkena banjir bandang, sebagaimana Kota Jakarta selalu menerima banjir kiriman dari Bogor, sebagai akibat penggundulan kawasan Puncak. Kondisi saat ini, areal bervegetasi di kawasan Gunung Karang hanya tersisa 40 persen.</p>
<p>Fungsi sosiologis hutan berkaitan dengan kehidupan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat sekitar hutan harus meningkat kesejahteraannya, namun jika cara yang ditempuh melalui eksploitasi hutan secara habis-habisan, seperti penebangan kayu, penjarahan hasil hutan dan lahan, maka yang terjadi hanyalah pemiskinan masyarakat sekitar hutan. Dalam hal ini perlu dikembangkan pengelolaan sekitar kawasan hutan yang berkelanjutan, bagaimana agar sumberdaya hutan tersebut bisa awet. Konsep agroforestry merupakan langkah yang tepat jika diterapkan dengan penuh tanggungjawab. Dalam hal ini petani di sekitar hutan diwajibkan untuk menanam pohon yang disela-selanya dibudidayakan tanaman pangan dan hortikultura.</p>
<p>Pengembangan konsep hulu-hilir di setiap DAS juga merupakan langkah yang baik, yaitu supaya masyarakat di sekitar hulu tidak menebang pohon, maka masyarakat pengguna air dan hasil sumberdaya alam di hilir harus memberikan kompensasi kepada pemilik lahan yang ada di hulu. Bagaimanapun sangat tidak efektif jika masyarakat di hulu dilarang menebang pohon, sementara kebutuhan ekonominya dibiarkan tidak tercukupi.</p>
<p>Fungsi biologis hutan kaitannya dengan hutan sebagai bank plasma nuftah atau sebagai cadangan genetik. Hutan menyimpan beragam flora dan fauna yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti plasma nuftah untuk tanaman obat, buah-buahan, sayuran, pangan, hias, industri dan energi. Di hutan tersimpan plasma nuftah tanaman energi seperti jarak, yang dapat digunakan untuk substitusi BBM melalui aplikasi biodiesel. Berbagai plasma nuftah tanaman industri seperti industri kayu, kertas, getah (karet), residu (mentol, terpentin), minyak (cengkeh, kayu putih), farmasi dan kosmetik ada di hutan. Selain itu, hutan pun menyimpan plasma nuftah hewan ternak dan peliharaan, seperti berbagai jenis burung, reptil, mamalia dan sebagainya.</p>
<p>Fungsi ekonomis hutan berhubungan dengan pemanfaatan hutan untuk memperoleh nilai tambah ekonomi, seperti pemanfaatan kayu. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Propinsi Banten, dalam setahun jumlah pohon yang ditebang di areal hutan dan non-hutan di Banten mencapai 5-6 juta pohon. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kayu yang mencapai 750 ribu – 1 juta kubik. Reboisasi dan penghijauan yang dilakukan hanya mencapai 4 juta pohon per tahun, maka terjadi penyusutan jumlah pohon antara 1-2 juta pohon per tahun. Hal tersebut sangat tidak kondusif bagi kondisi lingkungan Propinsi Banten, bahkan bagi Planet Bumi secara keseluruhan. Setiap penyusutan vegetasi hutan tropis, termasuk yang ada di Banten, akan berpengaruh terhadap kondisi iklim di seluruh Planet Bumi, antara lain memberikan kotribusi terhadap pemanasan global.</p>
<h4>Revitalisasi</h4>
<p>Kondisi dan berbagai fungsi hutan yang ada di Propinsi Banten perlu direvitalisasi, begitu pula kebijakan dan strategi dalam manajemen hutan. Upaya yang harus ditempuh Pemerintah Daerah (Pemda) dan masyarakat, antara lain melalui penerapan teknik silvikultur (perbaikan kualitas tegakan), pengelolaan aspek ekologi (biodiversity), konservasi tanah dan air, pencegahan bahaya kebakaran hutan, serta penelitian dan pengembangan (Litbang) kehutanan. Dalam Litbang kehutanan di Propinsi Banten, beberapa perguruan tinggi yang ada di Tangerang, Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Lebak perlu diikutsertakan. Perguruan tinggi tersebut diharapkan dapat menyelenggarakan kajian kehutanan yang spesifik untuk kawasan masing-masing. Selain itu, melalui program pengabdian masyarakat atau kuliah kerja nyata (KKN) berupaya melakukan pendampingan terhadap masyarakat di sekitar hutan.</p>
<p>Untuk menyelamatkan hutan yang tersisa di Propinsi Banten, bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemda semata, tetapi juga seluruh komponen masyarakat, juga demikian dengan Banten Institute for Social Transformation, Hal yang tidak kalah pentingnya, setelah Kota Serang berdiri menjadi kota otonom, dalam rencana induk pengembangan (RIP) cukup layak disiapkan pengembangan hutan kota. Kota Serang perlu memiliki ruang terbuka dan hijau (RTH) minimal 20 persen dari luas kota, kalau bisa dibuat Kebun Raya Serang, sebagaimana Kebun Raya Bogor. Reboisasi dan penghijauan harus dilakukan di seluruh wilayah Propinsi Banten, jika tidak maka Banten akan mengalami desertikasi atau penggurunan. Seluruh masyarakat Banten tidak ada yang mau kalau nanti harus tinggal di sebuah gurun yang bernama &#8216;Gurun Banten&#8217;. Langkah terbaik untuk mengantisipasinya, &#8216;Selamatkan Hutan di Banten&#8217;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/artikel/selamatkan-hutan-di-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembangan Agribisnis di Banten, Analisis Ekonomi Menuju Agribisnis</title>
		<link>http://baistfoundation.org/artikel/pengembangan-agribisnis-di-banten/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/artikel/pengembangan-agribisnis-di-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 14:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Zakaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Perekonomian Propinsi Banten telah mengalami pergeseran, yaitu dari dominasi pertanian menjadi industri. Namun peranan sektor pertanian masih cukup penting, meskipun kontribusinya terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) terus menyusut, dalam penyerapan tenaga kerja masih melebihi sektor industri dan sektor lainnya. Dengan kata lain sebagian besar penduduk Banten ternyata masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian.

Persoalannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perekonomian Propinsi Banten telah mengalami pergeseran, yaitu dari dominasi pertanian menjadi industri. Namun peranan sektor pertanian masih cukup penting, meskipun kontribusinya terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) terus menyusut, dalam penyerapan tenaga kerja masih melebihi sektor industri dan sektor lainnya. Dengan kata lain sebagian besar penduduk Banten ternyata masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian.</p>
<p><span id="more-78"></span><br />
Persoalannya keberadaan sektor pertanian masih didominasi oleh sub sektor tanaman pangan, terutama usaha tani padi. Padahal berdasarkan analisa kami tim Divisi Ekonomi Banten Institute for Social Transformation, budidaya padi tidak banyak memberikan keuntungan. Di satu sisi harga sarana produksi sepert pupuk dan pestisida cenderung naik, di sisi lainnya harga jual padi selalu ditentukan pemerintah melalui kebijakan harga dasar gabah (HDG). Hal tersebut menyebabkan nilai tukar petani (NTP) terus merosot, tingkat kesejahteraan petani menjadi sejajar atau di bawah garis kemiskinan. Sub sektor lainnya seperti perkebunan, hortikultura, peternakan dan perikanan juga belum menunjukkan kontribusi yang menggembirakan, baik terhadap kondisi petani maupun terhadap perekonomian Banten secara regional.</p>
<p>Lantas, adakah strategi untuk memperbaiki kondisi petani tersebut ? Strategi yang diharapkan mampu menjadi &#8216;obat mujarab&#8217; sehingga dapat &#8216;menyembuhkan &#8216; sektor pertanian yang sedang &#8217;sakit kronis&#8217;.</p>
<h4>Agribisnis</h4>
<p>Menurut pakar ekonomi pertanian dari Amerika Serikat, David Downey dan Steven P. Erickson, agribisnis meliputi lima sektor: Pertama, sektor input (input supply sectors) meliputi pupuk, benih, pestisida, bahan bakar, mesin dan peralatan lainnya; Kedua, sektor primer (farm production sectors) merupakan sentral dari agribisnis, meliputi petani, peternak dan nelayan; Ketiga, sektor sekunder (output sectors), berperan mengubah bahan baku menjadi bahan jadi (agroindustri); Keempat, sektor tersier (market farm product), berfungsi mengantarkan produk sektor primer dan sekunder ke tangan konsumen.</p>
<p>Tak dapat dipungkiri, bahwa Ustadz Sujai Berangkat dari Agrobisnis Budidaya Melon di Kecamatan Anyer Kabupaten Serang, telah menjalankan agribisnis Budidaya Melon sejak empat tahun yang lalu, bahkan terus berjuang bersama santri &#8211; santrinya, begitu pula para petani di daerah lainnya mungkin,  Namun persoalannya, usaha budidaya melon dan kawan-kawan belum berhasil memadukan keempat sektor agribisnis tersebut, terutama untuk sektor sekunder dan tersier. Dalam sistem agribisnis, petani merupakan sentral, namun untuk kasus agribisnis di Banten dan daerah lainnya, posisi petani masih sangat lemah. Hal itu disebabkan pemilikan modal yang kecil, penggunaan teknologi yang rendah, pemilikan lahan yang sempit, produk yang cepat rusak, ancaman iklim seperti banjir dan kekeringan, gangguan hama dan penyakit tanaman, serta akses yang sangat kecil terhadap sumberdana dan informasi.</p>
<p>Sebenarnya keberpihakan pemerintah terhadap petani ini sudah berlangsung sejak dimulainya pemerintahan Orde Baru. Hal itu tak lain sebagai kompensasi pemerintah untuk menutupi kegagalan pasar (market failure) yang terjadi. Beragam kebijakan, strategi, program dan proyek pembangunan telah diterapkan pemerintah, dengan maksud untuk memperbaiki kondisi petani. Namun setelah perlakuan khusus terhadap petani tersebut berlangsung hampir empat puluh tahun, hasilnya hampir tidak ada. Sampai saat ini petani belum mampu menjadi pelaku ekonomi yang dapat bersaing di pasar. Mengacu pada teori agribisnis dari David Downey dan Steven P. Erickson, petani belum mampu berkiprah di sektor sekunder dan tersier. Dengan kata lain proses agribisnis yang dijalankan terbatas untuk sektor input dan primer, baru sebatas mengelola sarana produksi dan produksi, sedangkan untuk agroindustri dan pemasaran, justru dikuasai pihak lain.</p>
<p>Untuk beberapa kasus, intervensi pemerintah yang kurang tepat terhadap usaha tani, justru menyebabkan kondisi petani makin terpuruk. Menurut Gunawan Sumodiningrat (2004), untuk perbaikan kondisi petani perlu format subsidi yang tepat, yaitu langsung diarahkan ke petani, dengan maksud untuk meningkatkan kapasitas petani agar mampu menjalankan usaha secara komersial dan berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani sebagai aktor utama agribisnis melalui bantuan teknis dan pendampingan, bertujuan membantu petani dalam mengenali berbagai masalah dan potensi yang ada. Pada akhirnya petani dapat membuat prediksi usaha yang tepat sesuai dengan dinamika bisnis jangka panjang. Dengan demikian posisi Balai Pendidikan dan Pelatihan Pertanian, Balai Penelitian Pertanian serta Fakultas Pertanian dengan program-program studinya menjadi sangat penting.</p>
<p>Dalam pengembangan agribisnis, baik untuk sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan, petani tidak bisa dibiarkan sendiri. Dalam hal ini sangat dibutuhkan pendampingan terutama oleh tenaga penyuluh pertanian. Kondisi yang terjadi di lapangan ternyata sejak tahun 2002 sampai saat ini tidak ada program penyuluh pertanian nasional. Data lainnya menunjukkan, dari 5.187 kecamatan yang ada di Indonesia, baru ada 3.557 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Di Kabupaten Tangerang dari 26 kecamatan hanya terdapat 10 BPP, di Kabupaten Serang, Pandeglang dan Lebak kondisinya hampir sama. Usia penyuluh pertanian umumnya sudah di atas 50 tahun dan banyak penyuluh yang beralih status dari jabatan fungsional ke jabatan struktural, bahkan ada yang terjun di dunia politik. Kelangkaan penyuluh pertanian perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kalau usaha tani dimodifikasi menjadi agribisnis, maka penyuluh pertanian pun perlu dimodifikasi menjadi konsultan agribisnis. Idealnya setiap desa di Propinsi Banten memiliki minimal satu orang konsultan agribisnis.</p>
<p>Dengan berkembangnya sistem agribisnis, diharapkan menyebabkan terjadinya peningkatan produktivitas, kualitas dan diversifikasi, selain itu dapat mengubah keberadaan petani individual ini yang menjadi perhatian khusus Banten Institute for Social Transformation, akan terus melakukan pendampingan di dua desa curug dan pontang untuk memposisikan desa binaan menjadi petani komunal, yang tergabung ke dalam kelompok ekonomi yang besar dan tangguh. Dengan terjadinya modifikasi dari usaha tani menjadi agribisnis, maka kesulitan modal pun tidak terjadi lagi. Sektor perbankan yang ada di Banten sudah selayaknya mau memberikan &#8216;pinjaman khusus&#8217; untuk agribisnis. Untuk menumbuhkan iklim yang kondusif, merupakan langkah yang tepat dan strategis jika Pemerintah Propinsi Banten segera mewujudkan berdirinya Bank Banten, yang akan menjadi kebanggaan masyarakat Banten, termasuk petani. </p>
<h4>Keterpaduan Sub Sektor</h4>
<p>Penanganan agribisnis di Propinsi Banten belum dijalankan secara holistik dan komprehensif, masih terkotak-kotak. Saat ini setidaknya ada tiga dinas dalam lingkup Pemda Propinsi Banten yang menangani agribisnis, yaitu Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, serta Dinas Perikanan dan Kelautan. Ada baiknya dalam pemerintahan Gubernur hasil Pilkada 2006, ketiga dinas tersebut di-merger menjadi Dinas Agribisnis, dengan seorang Kepala Dinas yang cerdas dan kreatif dalam mengembangkan agribisnis di Banten.</p>
<p>Dengan terbentuknya Dinas Agribisis Propinsi Banten, maka upaya pengembangan agribisnis menjadi lebih terpadu dan terarah. Untuk sub sektor tanaman pangan, komoditas padi bisa lebih dikembangkan potensinya, bahkan melalui pengembangan padi organik bisa diperoleh nilai tambah yang lebih tinggi. Padi organik sangat membutuhkan input pupuk organik yang pengadaannya tergantung pada pupuk kandang, maka antara sub sektor tanaman pangan dengan peternakan bisa disinergikan. Dengan adanya pengembangan ternak sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, domba dan unggas, maka rencana pembukaan impor komoditas yang terkait subsektor peternakan dapat dihindari, bagaimanapun berbagai kalangan menilai rencana tersebut sangat berisiko dan mengancam revitalisasi pertanian.</p>
<p>Melalui konsep agroforestry peningkatan produksi pangan dan hortikultura dapat disinergikan dengan upaya konservasi hutan. Keterpaduan antara subsektor tanaman pangan dengan kehutanan ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi petani di sekitar hutan, selain itu upaya pelestarian hutan pun dapat dilaksanakan secara optimal. Untuk pengembangan komoditas jagung, Banten layak meniru Gorontalo yang &#8216;meproklamirkan&#8217; sebagai &#8216;propinsi agribisnis&#8217;. Selain dikembangkan di lahan kering, jagung pun dapat dikembangkan melalui konsep agroforestry. </p>
<p>Komoditas hortikultura seperti sayuran, buah-buahan, tanaman obat dan tanaman hias, potensi pengembangannya masih sangat terbuka. Beberapa jenis buah-buahan seperti durian, manggis, sawo, jambu air Cincalo, salak, pisang, rambutan, alpukat dan sebagainya dapat dikembangkan melalui konsep agribisnis. Banten bisa menjadi sentra penghasil buah-buhan sebagai pemasok utama kebutuhan Jakarta. Faktor kedekatan transportasi Jakarta-Banten, bisa menjadi keunggulan komparatif untuk dapat memenangkan persaingan dalam meraih pasar Jakarta. Tanaman hias dapat dikembangkan dengan nilai tambah yang jauh lebih besar, Kecamatan Karang Tengah Kota Tangerang misalnya, meskipun dengan luas lahan yang relatif sempit tetapi dapat memasok berbagai jenis tanaman hias untuk kebutuhan beberapa kota besar di Indonesia, bahkan untuk ekspor. Tak ada salahnya jika agribisnis Banten mulai melirik anggrek. Komoditas ini sangat menggiurkan, saat ini total perdagangan dunia mencapai 150 juta dollar AS, dan pangsa pasar Indonesia hanya 6 persen. Perlu dilakukan observasi keberadaan jenis-jenis anggrek yang ada di hutan-hutan yang ada di Banten, kemudian jenis-jenis yang menarik dapat dikembangkan melalui metode kultur jaringan.</p>
<p>Sub sektor perikanan perlu mendapat perhatian serius.. Banten memiliki perairan yang luas, baik air permukaan (sungai, danau, kolam, tambak) maupun lautan. Kinerja fisik sektor perikanan selama semester pertama tahun 2006 sangat memprihatinkan. Hal itu disebabkan sering terjadinya bencana alam yang merusak tambak, kolam, jaring apung, kapal, tempat usaha dan rumah penduduk di kawasan pesisir. Selain itu realisasi fisik proyek tingkat pencapaiannya sangat kurang, penyebab utamanya ialah keterbatasan lelang proyek perikanan, menyusul terbatasnya pegawai yang menjadi pimpinan proyek.</p>
<p>Sub sektor perkebunan, khususnya di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, potensinya masih cukup besar, antara lain untuk komoditas sawit, kelapa dan karet. Keberadaan BUMN PTPN VIII diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan perkebunan di Banten, terutama perkebunan rakyat yang kondisinya masih jauh dari aplikasi konsep agribisnis. Kelemahan utamanya sama seperti sub sektor lainnya, yaitu pada agroindustri dan pemasaran.</p>
<p>Sebenarnya Provinsi Banten sudah memiliki beberapa komoditas khas, seperti emping melinjo, gula aren dan sate bandeng, namun promosi yang tidak gencar menyebabkan produk agribisnis tersebut kurang dikenali. Bahkan warga Jakarta saja sangat sedikit yang mengenali sate bandeng, berbeda dengan makanan khas asal Bandung yang cepat populer di Jakarta. Padahal Bandung lebih jauh dari Jakarta daripada Serang. Strategi promosi menjadi hal yang sangat penting dalam pengembangan agribisnis, baik untuk pemasaran produk atau mendatangkan investor.</p>
<p>Pengembangan agribisnis di Banten bertujuan untuk meningkatkan kesejateraan petani. Selain itu, dalam kancah perdagangan global, beragam komoditas agribisnis Banten diharapkan dapat memenangkan persaingan. Seluruh rantai agribisnis, mulai dari pra produksi, produksi, panen, pasca panen (agroindustri) sampai pemasaran harus berlangsung dengan efisiensi yang tinggi. Efisiensi itulah yang menjadi kunci keberhasilan dalam persaingan bebas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/artikel/pengembangan-agribisnis-di-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperhatikan Nasib Petani Banten</title>
		<link>http://baistfoundation.org/artikel/memperhatikan-nasib-petani-banten/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/artikel/memperhatikan-nasib-petani-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 14:56:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Zakaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Secara perlahan tapi pasti Propinsi Banten telah muncul sebagai provinsi industri. Hal itu antara lain ditandai dengan kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai 52 persen, sedangkan kontribusi sektor pertanian hanya 8,9 persen (PDRB Banten tahun 2005 mencapai Rp. 80 triliun) . Pertumbuhan sektor industri di Banten tidak lepas dari dikembangkannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara perlahan tapi pasti Propinsi Banten telah muncul sebagai <em>provinsi industri</em>. Hal itu antara lain ditandai dengan kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai 52 persen, sedangkan kontribusi sektor pertanian hanya 8,9 persen (PDRB Banten tahun 2005 mencapai Rp. 80 triliun) . Pertumbuhan sektor industri di Banten tidak lepas dari dikembangkannya 17 kawasan industri yang seluruhnya berlokasi di Banten Utara (Cilegon, Serang dan Tangerang). Ternyata sektor industri di Banten hanya menyerap 22 persen tenaga kerja, sedangkan pertanian mampu menyerap 27 persen dari angkatan kerja.<br />
<span id="more-76"></span></p>
<p>Data-data tersebut menunjukkan, bahwa sektor industri hanya berkembang di Banten Utara dan kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja tidak lebih baik dari sektor pertanian. Kalaupun ditelaah lebih lanjut, pertumbuhan sektor industri di Cilegon, Serang dan Tangerang hanya terkonsentrasi di beberapa kecamatan tertentu, seperti Cilegon, Cikande, Cikupa, Cisoka, Balaraja, dan beberapa kecamatan di Kota Tangerang. Sebagian besar kecamatan yang ada di Banten Utara sebenarnya masih berbasis pertanian. Di sisi lainnya ternyata hampir seluruh kecamatan di Banten Selatan (Lebak dan Pandeglang) juga masih berbasis pertanian.</p>
<p>Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB di Kabupaten Lebak dan Pandeglang masih berkisar antara 30-35 persen, sedangkan angkatan kerja yang diserap sekitar 50-55 persen. Dengan demikian, pengembangan sektor pertanian perlu menjadi prioritas, kondisi petani sebagai &#8216;aktor utama&#8217; perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Bukan sekedar perhatian yang lebih penting ialah adanya solusi yang proaktif.</p>
<h4>Seperti &#8216;Anak Tiri&#8217;</h4>
<p>Tak dapat dipungkiri bahwa selama ini sektor pertanian masih seperti &#8216;anak tiri&#8217; dalam pembangunan nasional. Keberadaan petani sebagai pelaku utama masih dipandang sebelah mata, kehidupannya makin terpuruk ditengah-tengah beragam kebijakan pemerintah yang tidak memihak (kebijakan harga pupuk, harga gabah, dan sebagainya). Saat ini di Propinsi Banten jumlah penduduk miskin mencapai 1, 3 juta orang, atau sekitar 16 persen dari seluruh penduduk. Ternyata sekitar 60-70 persen penduduk miskin tersebut merupakan penduduk yang hidup di sektor pertanian.</p>
<p>Kalau ditelaah lebih jauh lagi, kondisi paling terpuruk dialami oleh petani padi, secara perlahan, kontribusi usaha tani padi dalam struktur pendapatan rumah tangga petani telah menurun drastis, yaitu dari 36,2 persen tahun 1980-an menjadi sekitar 13,6 persen tahun ini. Selain itu, ternyata lebih dari 80 persen pendapatan rumah tangga petani kecil disumbang dari kegiatan di luar sektor pertanian, seperti dari dagang, buruh kasar dan ngojek. Maka tak heran jika sebagian anggota keluarga petani dari Kecamatan Cibaliung, Munjul, Panimbang, Malingping, Leuwidamar, Padarincang, Sepatan, Kronjo dan sebagainya banyak yang mencari nafkah sebagai pekerja sektor informal di kota-kota Cilegon, Tangerang, Jakarta, bahkan jadi TKI di luar negeri.</p>
<p>Karena usaha tani tidak menarik lagi, di beberapa desa di Kecamatan Curug Kabupaten Serang, sebagian petani ngobyek atau &#8216;beralih profesi&#8217; menjadi pencetak batu bata. Pada bulan September 2006 yang lalu, sebagian keluarga mengkonsumsi nasi aking (nasi bekas yang dikeringkan) sebagai pengganti nasi, karena daya beli yang melemah, kemarau yang berkepanjangan menyebabkan usaha mereka terhenti. Sementara ratusan keluarga petani di Kecamatan Patia dan Pagelaran Kabupaten Pandeglang mengalami rawan pangan, akibat gagal panen pada bulan Mei-Juni 2006 yang lalu.</p>
<p>Itulah gambaran kondisi sebagian petani Banten yang makin terpuruk. Dalam hal ini perhatian pemerintah, baik pusat atau daerah (Pemda) terhadap kondisi petani dan pertaniannya memang cukup besar. Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) misalnya, menggulirkan program revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan (RPPK). Untuk pertanian ada empat kebijakan: kebijakan umum pertanahan dan tata ruang pertanian, pembangunan infrastruktur pedesaan, ketahanan pangan, dan perdagangan produk pertanian. Begitu pula dalam kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada) Provinsi Banten yang baru lalu, beberapa pernyataan yang muncul antara lain: peningkatan pembangunan di sektor pertanian agar bisa mendukung industri, pengembangan industri pengolahan produk pertanian, pengembangan ekonomi lokal berbasis pertanian, dan sebagainya. Namun hendaknya perhatian dan pernyataan tersebut tidak sekedar menjadi retorika belaka, petani butuh bukti dan bukan janji.</p>
<p>Petani sudah lelah menjadi <em>anak tiri</em>, padahal selama ini petani tidak seperti kelompok masyarakat lainnya, yang sangat getol menyuarakan tuntutannya supaya pemerintah memperhatikan berbagai kepentingannya. Petani begitu sabar, jarang mendatangi gedung DPR atau DPRD, meskipun berbagai persoalan selalu menghinggapinya. Padahal anggota dewan yang terhormat bisa duduk di kursi dewan, sebagian besar adalah karena titipan suara petani. Tak dapat dipungkiri sebagian besar pemilih, baik dalam pemilihan anggota legislatif, Pilpres atau Pilkada berasal dari petani dan anggota keluarganya.</p>
<h4>Subsidi dan Insentif</h4>
<p>Keberadaan petani dan pertaniannya sangat penting bagi kelangsungan bangsa dan negara ini. Sulit dibayangkan, bagaimana jadinya jika petani secara serempak mogok turun ke sawah dan ladang. Produksi padi nasional akan terganggu, ketahanan pangan akan terancam dan negara pun dihadapkan pada persoalan serius. Bagaimanapun tulang punggung atau pahlawan ketahanan pangan sejati ialah para petani, yang lain hanya ikut nebeng dan beken. Sebagai gambaran, saat ini penduduk Provinsi Banten mencapai 9,1 juta jiwa, dengan konsumsi beras rata-rata per kapita per tahun mencapai 140 kg, sehingga jumlah beras yang harus diproduksi petani Banten sekitar 1,274 juta ton.</p>
<p>Jika kemampuan petani tidak mencapai angka tersebut, maka kebutuhan beras tidak terpenuhi, beras menjadi langka dan harganya akan meningkat. Padahal menurut staf ahli Menko Perekonomian, Mohamad Ikhsan, setiap 10 persen kenaikan harga beras, akan menaikkan kemiskinan 1 persen. Dengan demikian jika harga beras di Banten naik 10 persen, maka persentase kemiskinan akan meningkat dari 16 menjadi 17 persen. Kalau harga beras naik 20 persen, maka persentase kemiskinan akan meningkat dari 16 menjadi 18 persen, dan seterusnya. Pada pertengahan September 2006 yang lalu, ketika harga beras di Desa Cilaku Kecamatan Curug Kabupaten Serang mencapai Rp. 3.700 – 4.000 per liter (setara dengan Rp. 4.625 – 5.000 per kg), sudah banyak penduduk yang tidak sanggup membelinya, sehingga beralih ke nasi aking dengan harga Rp. 500 per liter (Rp. 625 per kg).</p>
<p>Di sisi lainnya, ekonom Didik J. Rachbini mengemukakan, bahwa setiap peningkatan harga beras sebesar Rp. 1.000 per kg akan meningkatkan inflow dana ke pedesaan sekitar Rp. 33 triliun (tersebar untuk sekitar 69.000 desa di Indonesia). Untuk Propinsi Banten, setiap kenaikan harga beras Rp. 1.000 per kg, akan meningkatkan arus masuk dana ke pedesaan sekitar Rp. 700 miliar, tersebar untuk sekitar 1.500 desa.</p>
<p>Dengan demikian persoalan tersebut menjadi dilematis bagi pemerintah, seperti buah simalakama, jika harga beras dinaikkan maka jumlah penduduk miskin akan bertambah, sebaliknya jika harga beras ditekan maka kondisi kehidupan petani akan makin terpuruk. Saat ini kondisi nilai tukar petani makin merosot, hal itu terjadi karena harga beras mengalami stagnasi dan jauh di bawah perkembangan harga barang yang dikonsumsi petani. </p>
<p>Sementara beberapa waktu yang lalu, Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat kemiskinan sangat dipengaruhi oleh harga beras, sehingga untuk itu harus dilakukan stabilisasi harga beras. Caranya antara lain dengan membanjiri pasar domestik dengan beras impor, supaya harga domestik dapat ditekan. Sulit dibayangkan bagaimana kondisi petani di Banten, jika di pelabuhan-pelabuhan di Kota Cilegon berdatangan kapal-kapal asing yang memuat beras impor. Kenyataannya tahun ini pemerintah pusat masih mengimpor 210 ribu ton beras. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, Achmad Suryana, dari seluruh produksi beras nasional yang mencapai 32 juta ton, angka impor tersebut &#8216;hanya&#8217; di bawah satu persen dan tidak berarti banyak.</p>
<p>Persoalannya bukan hanya pada sedikit-banyaknya jumlah impor, namun munculnya berita impor beras tersebut secara psikologis bisa menurunkan motivasi petani, karena setiap kenaikan angka impor berarti terjadinya penurunan harga beras lokal. Dengan menurunnya harga beras maka &#8216;mimpi&#8217; petani tentang kehidupan yang layak akan semakin jauh.</p>
<p>Kebijakan pemerintah mengenai perberasan nasional, baik mengenai dukungan sistem produksi, diversifikasi, dan perlakuan pascapanen memang sudah cukup memadai, sebagai contoh Inpres Nomor 13/2005 mengatur hal tersebut. Namun menyangkut &#8216;politik harga beras&#8217; pemerintah terkesan tidak mampu menjamin harga jual beras petani. Hal ini merupakan persoalan sistemik, sejarah mencatat, pada tahun 1950-an, kabinet seringkali jatuh karena ketidakberdayaannya dalam mengatasi kenaikan harga beras.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan kondisi petani Banten jika faktanya seperti ini. Untuk meringankan beban petani ada baiknya Pemda Provinsi Banten tetap memperhatikan insentif dan subsidi. Insentif misalnya dalam bentuk kenaikan harga dasar gabah, penyediaan sarana produksi, pemberian kredit dengan bunga murah, pengembangan infrastruktur pedesaan, reforma agraria, mendorong terbentuknya asosiasi petani padi dan database padi. Sedangkan subsidi, terutama ditujukan untuk konsumen beras yang miskin, sehingga kebutuhan beras penduduk miskin tetap terpenuhi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/artikel/memperhatikan-nasib-petani-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Community Technology Centre</title>
		<link>http://baistfoundation.org/mitra/community-technology-centre/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/mitra/community-technology-centre/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 21:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nisaillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mitra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Program peningkatan akses petani terhadap teknologi informasi yang disebut dengan Community Technology Centre (CTC) dimulai sejak Desember 2007, bekerja sama dengan Microsoft Corporation dan Formasi Indonesia. Dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat dan pertanian di Banten yang cukup memprihatinkan, rata-rata masyarakat di desa sudah sulit untuk menggarap lahan karena perubahan kepemilikan lahan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Program peningkatan akses petani terhadap teknologi informasi yang disebut dengan Community Technology Centre (CTC) dimulai sejak Desember 2007, bekerja sama dengan Microsoft Corporation dan Formasi Indonesia. Dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat dan pertanian di Banten yang cukup memprihatinkan, rata-rata masyarakat di desa sudah sulit untuk menggarap lahan karena perubahan kepemilikan lahan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang ada di perkotaan.<br />
<span id="more-69"></span><br />
Potensi pertanian yang banyak dimiliki oleh Banten belum dimanfaatkan secara optimal terlebih dengan prilaku dan pola pertanian yang masih tradisional. Sementara di sisi lain percepatan teknologi yang semakin pesat namun kondisi ini belum dioptimalkan untuk mengembangkan teknologi di kalangan petani. Akses pasar yang sifatnya tradisional belum diorientasikan pada pengembangan IT sebagai media promosi dan akses informasi terkait dengan keutuhan petani. Dengan adanya program ini, diharapkan terjadinya perubahan pola pikir dan prilaku masyarakat petani agar lebih terbuka dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan potensi pertanian yang dimiliki untuk dapat meningkatkan kesejahteraan.</p>
<p>Saat ini BaIST memiliki empat CTC yaitu CTC Menes di Kabupaten Pandeglang, CTC Malingping di Kabupaten Lebak, CTC Pontang dan CTC Anyer di Kabupaten Serang. Selain memberikan pengenalan dan pelatihan komputer dan internet, di CTC para petani juga diarahkan untuk dapat menggunakan komputer sebagai perangkat pendukung dalam usaha pertanian, dan internet sebagai media informasi mengenai segala sesuatu yang terkait dengan dunia pertanian. Petani dapat mencari informasi tentang teknologi pertanian, harga produk pertanian di pasar, harga pupuk, pasar untuk hasil pertanian, informasi cuaca dan lain sebagainya. Sehingga petani dapat mengkalkulasikan kemungkinan-kemungkinan langkah dan tindakan yang dapat diambil untuk pertaniannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/mitra/community-technology-centre/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pondok Pesantren Modern Nurul Alami</title>
		<link>http://baistfoundation.org/mitra/ponpes-nurul-alami/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/mitra/ponpes-nurul-alami/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 20:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Zakaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mitra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Ponpes Modern Nurul Alami yang terletak di Kampung Panyaweuyan, desa Dahu, Kec. Cikeusal, Kab. Serang &#8211; Banten merupakan pondok modern berbasis agrobisnis yang saat ini sedang mengembangkan pola Pertanian Terpadu (Integrated Farming) yang meiliputi kegiatan pertanian (tanaman pangan dan hortikultura), perikanan, peternakan, perkebunan dan tanaman kehutanan.

Pola Pertanian Terpadu tersebut dimaksudkan agar terjadi suatu simbiosa mutualisma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ponpes Modern Nurul Alami yang terletak di Kampung Panyaweuyan, desa Dahu, Kec. Cikeusal, Kab. Serang &#8211; Banten merupakan pondok modern berbasis agrobisnis yang saat ini sedang mengembangkan pola Pertanian Terpadu (<em>Integrated Farming</em>) yang meiliputi kegiatan pertanian (tanaman pangan dan hortikultura), perikanan, peternakan, perkebunan dan tanaman kehutanan.<br />
<span id="more-64"></span><br />
Pola Pertanian Terpadu tersebut dimaksudkan agar terjadi suatu simbiosa mutualisma (saling menguntungkan) sehingga tidak ada bahan yang terbuang dari lingkaran sistem tersebut yang akan termanfaatkan semuanya mulai dari hasil produksinya sampai dengan limbah yang dihasilkan.</p>
<p>Pengelolaan Pertanian Terpadu ini tentunya harus didasarkan kepada konsep kembali ke alam dengan menggunakan Teknologi Tepat Guna dan Ramah Lingkungan, serta berkesinambungan. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah pemanfaatan mikro-organisme pengurai dan teknologi alamiah yang mengadopsi kejadian petir (<em>Plasm Technology</em>) sebagai bio stimulan yang akan bekerja secara efektif di dalam tanah, sehingga mampu mengembalikan kondisi tanah kembali seperti sedia kala.</p>
<p>Pembangunan bidang agrobisnis di Ponpes Modern Nurul Alami dimaksudkan sebagai pendukung dalam membangun kemandirian dan ketahanan pangan pondok sehingga mampu menggerakkan roda perekonomian.</p>
<p>Pada tanggal 27 &#8211; 30 Maret 2009, Ponpes Modern Nurul Alami melakukan panen padi organik perdana dilahan sekitar 3.000 m2, dengan hasil yang cukup menggembirakan, yaitu menghasilkan 9 ton per hektar (gabah basah). Hal ini cukup spektakuler mengigat penggunaan teknologi yang digunakan mampu memperbaiki produktivitas lahan, yang biasanya panen padi dengan pemupukan kimia di wilayah sekitar pondok hanya mampu menghasilkan 5 &#8211; 6 ton per hektar.</p>
<p>Dari hasil panen gabah basah tersebut 9 ton/hektar, setelah di jemur menghasikan gabah kering giling (GKG) sebesar 7,2 ton per hektar, dan setelah GKG digiling menghasilkan beras sebanyak 4,82 ton beras per hektar, yang berarti rendemen 67 % dari GKG.</p>
<p>Oleh karena itu perlu penggunaan teknologi yang tepat guna dan ramah lingkungan harus terus dikembangkan sehingga selain dari hasil yang panen yang menyehatkan juga akan memperbaiki tanah yang telah 30 tahun rusak akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak terkendali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/mitra/ponpes-nurul-alami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desa Linduk, Kec. Pontang</title>
		<link>http://baistfoundation.org/mitra/desa-linduk/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/mitra/desa-linduk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 20:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nisaillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mitra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Secara administratif Desa Linduk berada di wilayah Kecamatan Pontang Kabupaten Serang. Letak geografisnya di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah selatan dengan Kelurahan Pulo Kencana Desa Tembakang, sebelah barat dengan Kelurahan Sukajaya Desa Setu, dan sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Kubang Puji Desa Sukaratu. Luas wilayahnya 670 Ha yang berada di ketinggian 200 MDPL [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara administratif Desa Linduk berada di wilayah Kecamatan Pontang Kabupaten Serang. Letak geografisnya di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah selatan dengan Kelurahan Pulo Kencana Desa Tembakang, sebelah barat dengan Kelurahan Sukajaya Desa Setu, dan sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Kubang Puji Desa Sukaratu.<span id="more-62"></span> Luas wilayahnya 670 Ha yang berada di ketinggian 200 MDPL di atas permukaan laut menjadikan Desa Linduk termasuk dalam kategori desa pesisir pantai. Lahan di wilayah Desa Linduk digunakan untuk perikanan seluas 270 Ha, pertanian 257 Ha dan pemukiman penduduk seluas 130 Ha. Sedangkan sebagian yang lain dipergunakan untuk yang lainnya seperti fasilitas umum, perkantoran pemerintah dan lain sebagainya.</p>
<p>Jumlah keseluruhan penduduk di Desa Linduk sebanyak 5000 orang yang meliputi tiga kampung yaitu Kampung Linduk, Kampung Pamanyaran dan Kampung Bayongbong. Dengan rincian penduduk berdasarkan usia sebagai berikut :</p>
<table>
<th>
<td rowspan="2">No.</td>
<td rowspan="2">Usia (Tahun)</td>
<td>Jenis Kelamin</td>
<td>Jumlah</td>
</th>
<th>
<td>Laki-laki</td>
<td>Perempuan</td>
</th>
<tr>
<td>1.</td>
<td>0-5</td>
<td>60</td>
<td>70</td>
<td>130</td>
</tr>
<tr>
<td>2.</td>
<td>6-12</td>
<td>398</td>
<td>430</td>
<td>428</td>
</tr>
<tr>
<td>3.</td>
<td>13-21</td>
<td>517</td>
<td>700</td>
<td>1217</td>
</tr>
<tr>
<td>4.</td>
<td>22-45</td>
<td>525</td>
<td>600</td>
<td>1125</td>
</tr>
<tr>
<td>5.</td>
<td>46-70</td>
<td>800</td>
<td>900</td>
<td>1700</td>
<tr>
<tr>
<td>6.</td>
<td>&nbsp;</td>
<td>2300</td>
<td>2700</td>
<td>5000</td>
</tr>
<p>Populasi penduduk di atas tersebar dalam tiga RW yang terdiri dari; 8 RT di RW 01 atau Kampung Linduk, 3 RT di RW 02 atau Kampung Pamanyaran, dan 9 RT di RW 03 atau Kampung Byongbong. Sebagaian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani dan peternak ikan. Pertanian di desa ini sudah menggunakan sistem pengairan irigasi dengan komoditas utama padi. Sedangkan perikanan yang dikembangkan berupa empang ikan bandeng dan tambak-tambak udang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/mitra/desa-linduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembangan Bio Etanol</title>
		<link>http://baistfoundation.org/kegiatan/pengembangan-bio-etanol/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/kegiatan/pengembangan-bio-etanol/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 20:06:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nisaillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Bio Fuel, Bio Disel, Bio Gas, Bio Premium, Mikro Hidro, Bio Premium adalah penghasil energi non fosil. Penghasil energi pengganti bahan bakar, artinya perlu adanya pengahsil energi tanpa CO atau carbon aktif dalam isu pemanasan global Bio fuel dalam isu untuk mencari alternative pngganti bahan bakar. Contohnya: tumbuhan jarak bisa menggantikan bio disel tapi tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bio Fuel, Bio Disel, Bio Gas, Bio Premium, Mikro Hidro, Bio Premium adalah penghasil energi non fosil. Penghasil energi pengganti bahan bakar, artinya perlu adanya pengahsil energi tanpa CO atau carbon aktif dalam isu pemanasan global Bio fuel dalam isu untuk mencari alternative pngganti bahan bakar.<span id="more-39"></span> Contohnya: tumbuhan jarak bisa menggantikan bio disel tapi tidak bisa menggantikan, artinya dalam produksi menghasilkan surplus energi. Dalam proses pencarian basis bio Etanol di provinsi banten itu punya gambaran kearah pohon nira, karena provinsi Banten memiliki potensi yang besar akan nira / aren. Di Indonesia baru terdapat satu daerah pengembangan bioetanol dari aren, yaitu di Kendari Sulawesi Tenggara. </p>
<p>Gula aren sejak dulu telah menjadi komoditas utama di Kabupaten Lebak. Penghasil gula aren di Propinsi Banten ini telah memenuhi kebutuhan gula aren masyarakat lokal, nasional bahkan internasional. Berbagai olahan produk gula aren yang mendunia. Diantaranya adalah gula semut yang telah mencapai pasar kelas atas. Permintaan gula aren setiap tahun meningkat. Tahun ini permintaan pasar mencapai 40.000 ton, dan baru terpenuhi separuhnya. Belum terpenuhinya permintaan pasar tersebut dikarenakan kurangnya bahan baku gula aren / nira dari petani.Kurangnya bahan baku yang dikarenakan keterbatasan jumlah pohon aren ini menyebabkan masyarakat belum mau memanfaatkannya dalam bentuk lain selain untuk produksi gula.</p>
<p>Dari hasil survey aren yang dilakukan oleh Tim BaIST di wilayah Kecamatan Malingping, bahwa surpus biotanol dan gula aren yang didapat oleh petani gula aren dalam 5 pohon akan menghasilkan 66 liter dalam sehari. Dari 66 liter nira akan menghasilkan gula aren sebanyak 45 batok atau sama dengan 3 kojor setengah, Perbandingan antara Gula aren dan Biotanol dalam 66 liter, penyulingan biotanol membutuhkan 5 liter sampai dengan 6 liter nira dan akan menghasilkan 1 liter biotanol.</p>
<p>Malingping memang bukan sentra aren, namun tetap dinilai memiliki potensi yang besar. Sedangkan sentra aren Kabupaten Lebak meliputi:</p>
<ul>
<li>Kec. Cijaku : 335,5 ha 6.740 pohon 367,20 produksi</li>
<li>Kec. Muncang : 257,0 ha 6.168 pohon 284,20 produksi</li>
<li>Kec. Gunung Kencana: 92 ha 2.950 pohon 115,20 produksi</li>
<li>Kec. Bojong Manik : 101,0 ha 2.737 pohon 94,56 produksi</li>
<li>Kec. Leuwidamar : 57,0 ha 1.860 pohon 20,64 produksi</li>
<li>Kec. Panggarangan : 127,0 ha 4.160 pohon 153,60 produksi</li>
</ul>
<p>Program ini baru pada tahap penelitian mengenai potensi aren, aspek sosial masyarakat petani aren dan peluang pengembangan bioetanol dari aren. Dalam konteks pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat Banten, pengembangan bioetanol diharakan menjadi salah satu alternatif penembangan ekonomi kerakyatan berbasis teknologi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/kegiatan/pengembangan-bio-etanol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desa Curug</title>
		<link>http://baistfoundation.org/mitra/desa-curug/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/mitra/desa-curug/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 19:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nisaillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mitra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Secara administrasi Desa Curug masuk dalam wilayah kecamatan Curug, Kota Serang. Terletak di tengah-tengah kecamatan Curug, berdekatan dengan kantor kecamatan, jarak tempuh dari kota kecamatan 500 m dalam waktu 5 menit. Jarak dari Kota Serang sekitar 5 km dengan jarak tempuh 25 menit.

Secara geografis luas wilayah 168 hektar dengan batas wilayah sebagai berikut : sebelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara administrasi Desa Curug masuk dalam wilayah kecamatan Curug, Kota Serang. Terletak di tengah-tengah kecamatan Curug, berdekatan dengan kantor kecamatan, jarak tempuh dari kota kecamatan 500 m dalam waktu 5 menit. Jarak dari Kota Serang sekitar 5 km dengan jarak tempuh 25 menit.<br />
<span id="more-42"></span><br />
Secara geografis luas wilayah 168 hektar dengan batas wilayah sebagai berikut : sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukawana, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tinggar, dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukajaya. Wilayahnya terdiri dari sawah tadah hujan seluas 36 ha, 23 ha tegal/ladang, 97 ha pemukiman, 3 ha tanah perkebuan rakyat, 7 ha tanah fasilitas umum (kas desa), dan 2 ha perkantoran pemerintah. Secara kelembagaan Desa Curug terbagi dalam 7 RW dan 11 RT.</p>
<p>Total penduduknya berjumlah 3.546 orang yang terdiri dari laki-laki berjumlah 1.284 orang dan perempuan berjumlah 1.722 orang yang terbagi dalam 841 kepala keluarga. Penduduknya masyoritas bermatapencaharian pokok sebagai petani. Da sisanya bergerak sebagai buruh tani, buruh swasta, PNS, pengrajin, pedagang, peternak, montir dan dokter. </p>
<p>Pendidikan formal dan non formal berjalan dengan baik. Tingkat pendidikan formal yang ditempuh masyarakat dari total jumlah penduduk dengan spesifikasi sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>belum sekolah sebanyak 664 orang, usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah 211 orang, pernah SD tapi tidak tamat 217 orang</li>
<li>tamat SD/sederajat 1042 orang</li>
<li>tamat SLTP/sederajat 897 orang</li>
<li>tamat SLTA/sederajat 493 orang</li>
<li>D2 9 orang</li>
<li>S1 11 orang, dan </li>
<li>tamat S2 sebanyak 2 orang</li>
<p>Pendidikan non formal lebih cenderung pada pendidikan keagamaan dalam bentuk majlis ta’lim yang dilaksanakan 2 mingguan, Taman Kanak-kanak Al-Qurán, Taman Pendidikan Al-Qurán, pondok pesantren, dan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skill dan keterampilan.</p>
<p>Lembaga pemerintah di Desa Curug cukup terbangun dengan baik dengan aparat dan sarana yang memadai. Sudah ada pemerintahan desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa hasil pemilihan. Sudah terbentuk Badan Perwakilan Desa yang melakukan musyawarah desa. Sedangkan lembaga kemasyarakatan yang ada terdiri dari Organisasi Karang Taruna, PKK, organisasi pemuda, LKMD dan kelompok gotong royong. Lembaga-lembaga kemasyarakatan ini cukup aktif dalam melakukan pemberdayaan masyarakat baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan olah raga, sehingga masyarakat Desa Curug cukup dinamis.</p>
<p>Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, beberapa potensi ekonomi yang dikembangkan diantaranya potensi Industri kerajinan, Industri pakaian, Industri bahan bangunan, home industri, pembuatan tempe, daun kaung untuk djadikan bungkus rokok, pembuatan batu bata, Warung kelontong, perusahaan angkutan, Tengkulak dan Usaha peternakan. Ditunjang dengan sarana transportasi yang baik, potensi-potensi ekonomi di atas berkembang cukup pesat. Bahka, dalam bidang pertanian, Desa Curug pernah mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik bekerjasama dengan LIPI.</p>
<p>Potensi pertanian (tanaman pangan) terdiri dari Padi seluas 7 ha yang menghasilkan rata-rata 10 ton per-ha, ubi kayu seluas 4 ha (6 ton per-ha), Perkebunan rambutan 9 ha (45 ton/ha), mangga 4 ha (8 ton per-ha), kehutanan dengan hasil hutan utama bambu menghasilkan sebanyak 7783 batang pertahun.</p>
<p>Usaha peternakan, terutama peternakan ayan dijadikan usaha oleh masyarakat pada umumnya. Kapasitas ternak yang dihasilkan adalah ; ayam sebanya 450.000 ekor pertahun dan bebek 300 ekor pertahun. Serta produksi hasil ternak berupa telur sebanya 250 kg /tahun dan daging yang dapat mencapai 900.000 kg/tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/mitra/desa-curug/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Rutin Mingguan BaIST</title>
		<link>http://baistfoundation.org/kegiatan/diskusi-rutin-mingguan-baist/</link>
		<comments>http://baistfoundation.org/kegiatan/diskusi-rutin-mingguan-baist/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 07:22:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nisaillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baistfoundation.org/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan anggota BaIST, maka diskusi merupakan media pengembangan wacana dan daya nalar yang dalam jangka panjang diharapkan akan membentuk satu komunitas kajian cair namun ilmiah. Cair dalam arti bahwa diskusi ini terbuka, tidak kaku, dan dapat mengakomodasi semua gaya berpikir dan pemikiran dari seluruh peserta secara partisipatif. Ilmiah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan anggota BaIST, maka diskusi merupakan media pengembangan wacana dan daya nalar yang dalam jangka panjang diharapkan akan membentuk satu komunitas kajian cair namun ilmiah.<span id="more-37"></span> Cair dalam arti bahwa diskusi ini terbuka, tidak kaku, dan dapat mengakomodasi semua gaya berpikir dan pemikiran dari seluruh peserta secara partisipatif. Ilmiah, artinya bahwa walaupun diskusi ini cair, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip keilmiahan, dimana setiap gagasan dan pemikiran yang disampaikan berdasarkan referensi keilmuan, bernilai (bukan diskusi kosong) dan terarah (fokus dengan tema yang dibahas).</p>
<p>Diskusi ini diselenggarakan secara rutin setiap hari Jum&#8217;at jam 20.00-22.00 atau sering disebut dengan &#8220;Kajian Malam Sabtu&#8221;. Awalnya diskusi rutin mingguan ini dilaksanakan setiap malam Minggu. Namun, karena ada pertimbangan beberapa hal, maka pada pertemuan selanjutnya dilaksanakan setiap malam Sabtu. Tema diskusi yang diangkat dapat berupa tema sosial aktual, kebutuhan kapasitas personalia BaIST untuk melaksanakan program, atau berdasarkan aspirasi dari peserta yang telah disepakati bersama.</p>
<p>Program ini dimulai pada Bulan Maret 2009. Pertemuan pertama, diskusi mingguan ini diisi oleh Bapak DR. Ali Fadhilah sebagai nara sumber yang membahas ‘Desain Riset&#8217;. Untuk membangun budaya riset, diperlukan pemahaman dasar-dasar penelitian sosial, kemampuan nalar dan analisa yang tajam dan latihan atau praktek penelitian dari hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita.</p>
<p>Pertemuan kedua, diisi oleh Faedullah untuk mereview materi pada pertemuan sebelumnya mengenai desain riset. Hasil diskusi kali ini merekomendasikan untuk melakukan diskusi cair setiap ada kesempatan, selain yang rutin mingguan. Agar setiap waktu luang dapat dimanfaatkan secara positif.</p>
<p>pertemuan ketiga, yang dilaksanakan pada Jum&#8217;at 10 April 2009, sebagai nara sumber adalah Bapak Kuswata Imam Rusdi dengan materi pembahasan ‘SWOT Analisis&#8217;. Pilihan materi ini merupakan upaya untuk memberikan bekal kemampuan personalia BaIST terkait dengan program terdekat BaIST, yaitu ‘Pengembangan Bio Etanol&#8217; yang saat ini masih dalam tahap penelitian. Program ini dilaksanakan bekerjasama dengan Yayasan SETARA Bogor yang merupakan mitra kerja BaIST sejak pertama kali BaIST didirikan.</p>
<p>Tentang pertemuan selanjutnya, tunggu info mendatang…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baistfoundation.org/kegiatan/diskusi-rutin-mingguan-baist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->