Pengembangan Bio Etanol
Bio Fuel, Bio Disel, Bio Gas, Bio Premium, Mikro Hidro, Bio Premium adalah penghasil energi non fosil. Penghasil energi pengganti bahan bakar, artinya perlu adanya pengahsil energi tanpa CO atau carbon aktif dalam isu pemanasan global Bio fuel dalam isu untuk mencari alternative pngganti bahan bakar. Contohnya: tumbuhan jarak bisa menggantikan bio disel tapi tidak bisa menggantikan, artinya dalam produksi menghasilkan surplus energi. Dalam proses pencarian basis bio Etanol di provinsi banten itu punya gambaran kearah pohon nira, karena provinsi Banten memiliki potensi yang besar akan nira / aren. Di Indonesia baru terdapat satu daerah pengembangan bioetanol dari aren, yaitu di Kendari Sulawesi Tenggara.
Gula aren sejak dulu telah menjadi komoditas utama di Kabupaten Lebak. Penghasil gula aren di Propinsi Banten ini telah memenuhi kebutuhan gula aren masyarakat lokal, nasional bahkan internasional. Berbagai olahan produk gula aren yang mendunia. Diantaranya adalah gula semut yang telah mencapai pasar kelas atas. Permintaan gula aren setiap tahun meningkat. Tahun ini permintaan pasar mencapai 40.000 ton, dan baru terpenuhi separuhnya. Belum terpenuhinya permintaan pasar tersebut dikarenakan kurangnya bahan baku gula aren / nira dari petani.Kurangnya bahan baku yang dikarenakan keterbatasan jumlah pohon aren ini menyebabkan masyarakat belum mau memanfaatkannya dalam bentuk lain selain untuk produksi gula.
Dari hasil survey aren yang dilakukan oleh Tim BaIST di wilayah Kecamatan Malingping, bahwa surpus biotanol dan gula aren yang didapat oleh petani gula aren dalam 5 pohon akan menghasilkan 66 liter dalam sehari. Dari 66 liter nira akan menghasilkan gula aren sebanyak 45 batok atau sama dengan 3 kojor setengah, Perbandingan antara Gula aren dan Biotanol dalam 66 liter, penyulingan biotanol membutuhkan 5 liter sampai dengan 6 liter nira dan akan menghasilkan 1 liter biotanol.
Malingping memang bukan sentra aren, namun tetap dinilai memiliki potensi yang besar. Sedangkan sentra aren Kabupaten Lebak meliputi:
- Kec. Cijaku : 335,5 ha 6.740 pohon 367,20 produksi
- Kec. Muncang : 257,0 ha 6.168 pohon 284,20 produksi
- Kec. Gunung Kencana: 92 ha 2.950 pohon 115,20 produksi
- Kec. Bojong Manik : 101,0 ha 2.737 pohon 94,56 produksi
- Kec. Leuwidamar : 57,0 ha 1.860 pohon 20,64 produksi
- Kec. Panggarangan : 127,0 ha 4.160 pohon 153,60 produksi
Program ini baru pada tahap penelitian mengenai potensi aren, aspek sosial masyarakat petani aren dan peluang pengembangan bioetanol dari aren. Dalam konteks pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat Banten, pengembangan bioetanol diharakan menjadi salah satu alternatif penembangan ekonomi kerakyatan berbasis teknologi.
Tanggapan
adma/dedy @ Sunday, 25 October 2009 13:53
untuk program tsb, saya mendukung….cuma mungkin menurut saya mayoritas masyarakat perlu di konfirmasi ulang, karena masih byak yang belum memahami untuk apa pengembangan tsbt dilakukan.. sehingga mereka banyak yang terkesan acuh akan program tsb. yang menurut saya bagus untuk menjadikan masyarakat yang produktif.terima kasih (adma cijengkol)